SDN Bunulrejo 2 Jln. Bedadung 3 Kecamatan Blimbing Kota Malang, kalah terkenal dengan SDN Blimbing 3, SDN Kauman, Purwantoro I. Tetapi dari segi prestasi, terutama bidang akademik tidak kalah oleh SDN tersebut di atas. Out put setiap tahunnya tidak pernah dibawah ranking 10 se Kota Malang. Malahan Tahun 2005, SDN Bunulrejo pernah menjadi Juara I Lomba Siswa Berprestasi Tingkat Propinsi. Sesuatu yang membanggakan tentunya bagi kami. Ironisnya pejabat terkait tidak pernah menengok sekolah kami. Lulusan sekolah kami, banyak yang masuk SMP dan SMA paforit di Kota Malang, dan mereka punya peran disekolah tersebut.
Tetapi.... coba tengok kondisi fisik SDN Bunulrejo 2. Begitu kontradiktif dengan prestasi yang diraihnya. Ruangan belajar yang kumuh, bocor, lembab dsb. Pendek kata, tidak memenuhi kenyamanan untuk proses belajar mengajar. Tragis memang!!!!!!
Tentunya kami tidak jumawa dengan prestasi yang kami raih, tetapi kepada yang berkompeten dalam bidang pendidikan di Kota malang ini kami berharap.....perhatikan sekolah kami!!!
Sebuah guyonan meluncur dari temen-temen guru. sekolah bocor, banjir saja bisa meraih prestasi tingkat propinsi, apalagi kalau sekolahnya mentereng, mungkin bisa tingkat nasional. Begitu guyonan beberapa guru kami.
Sekarang kondisi fisik sekolah sudah agak lumayan bagus,walaupun bangunan "baru" tersebut banyak yang retak dan tetap lembab, entah kenapa bangunan "baru" tersebut kok begitu. Disamping itu ada 4 ( empat ruangan ) belajar yang belum tersentuh perbaikan. Dua ruangan kondisi sedang, dan dua ruangan lagi sangat tidak layak untuk proses KBM. Disamping bocor ( karena sudah lapuk dimakan usia sekolah ) juga ada satu ruangan yang ditengah-tengahnya diberi tiang penyangga. Maaf... mari kita bertanya kepada hati nurani kita masing-masing. Nyamankah belajar di ruangan seperti itu? Tenangkah belajar di ruangan yang dikasih tiang penyangga?? Kalau terjadi sesuatu terhadap anak didik kita, siapa yang bertanggung jawab??. Serenteng pertanyaan dan kekhawatiran akan lahir dari fikiran dan hati yang bersih dengan melihat kondisi sekolah seperti ini.
Ada satu pertanyaan yang menggoda kami. Mengapa untuk tingkat SMP bangunan fisik sekolah sangat diperhatikan, sedangkan SD kurang perhatian?. Apakah nunggu sekolah ambruk? Apakah alokasi dana perbaikan sekolah untuk SD dan SMP berbeda? Kalau ada perbedaan, apa yang menyebabkan perbedaan. Bukankah secara logika SD itu merupakan Dasar dari pendidikan selanjutnya yang seharusnya mendapat perhatian lebih?
Kami tidak menggugat, tetapi kadang dalam tataran teori yang kami dapat berbeda dengan tataran implementasi. Kalau pakai bahasa agama, tidak sesuainya bahasa lisan dan bahasa perbuatan itu namanya munafiq, hifokrit.
Mari kita renungkan bersama. Pendidikan adalah investasi masa depan bangsa, invest itu akan berhasil maksimal kalau prosesnya juga maksimal, termasuk yang bertanggung jawab terhadap dunia pendidikan di Indonesia itu.
Beberapa bulan yang lalu di Kota malang diresmikan Kantin Kejujuran oleh Bapak Wali Kota Malang bersamaan dengan peringatan Hari anti Korupsi. Pertanyaannya adalah : "Untuk siapa kejujuran itu? untuk anak-anak?, guru? atau.........untuk semua anak bangsa".?
Kejujuran adalah sesuatu yang universal, tidak mengenal kasta dan tidak mengenal ras serta bangsa. Malahan semua agama pun di dunia ini mengajarkan tentang kejujuran. Maka sudah seharusnya "kejujuran" itu tidak terjebak dalam dunia ceremonial dan retorika saja.
Kami bukan mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi marilah kita "introsfeksi berjamaah" demi kemajuan pendidikan anak-anak kita.
Mulailah dari sekarang, mulailah dari diri kita masing-masing, dan mulailah dari yang terkecil untuk memperbaiki keadaan pendidikan di Indonesia ini.
Ayoo.....!!!!
Tetapi.... coba tengok kondisi fisik SDN Bunulrejo 2. Begitu kontradiktif dengan prestasi yang diraihnya. Ruangan belajar yang kumuh, bocor, lembab dsb. Pendek kata, tidak memenuhi kenyamanan untuk proses belajar mengajar. Tragis memang!!!!!!
Tentunya kami tidak jumawa dengan prestasi yang kami raih, tetapi kepada yang berkompeten dalam bidang pendidikan di Kota malang ini kami berharap.....perhatikan sekolah kami!!!
Sebuah guyonan meluncur dari temen-temen guru. sekolah bocor, banjir saja bisa meraih prestasi tingkat propinsi, apalagi kalau sekolahnya mentereng, mungkin bisa tingkat nasional. Begitu guyonan beberapa guru kami.
Sekarang kondisi fisik sekolah sudah agak lumayan bagus,walaupun bangunan "baru" tersebut banyak yang retak dan tetap lembab, entah kenapa bangunan "baru" tersebut kok begitu. Disamping itu ada 4 ( empat ruangan ) belajar yang belum tersentuh perbaikan. Dua ruangan kondisi sedang, dan dua ruangan lagi sangat tidak layak untuk proses KBM. Disamping bocor ( karena sudah lapuk dimakan usia sekolah ) juga ada satu ruangan yang ditengah-tengahnya diberi tiang penyangga. Maaf... mari kita bertanya kepada hati nurani kita masing-masing. Nyamankah belajar di ruangan seperti itu? Tenangkah belajar di ruangan yang dikasih tiang penyangga?? Kalau terjadi sesuatu terhadap anak didik kita, siapa yang bertanggung jawab??. Serenteng pertanyaan dan kekhawatiran akan lahir dari fikiran dan hati yang bersih dengan melihat kondisi sekolah seperti ini.
Ada satu pertanyaan yang menggoda kami. Mengapa untuk tingkat SMP bangunan fisik sekolah sangat diperhatikan, sedangkan SD kurang perhatian?. Apakah nunggu sekolah ambruk? Apakah alokasi dana perbaikan sekolah untuk SD dan SMP berbeda? Kalau ada perbedaan, apa yang menyebabkan perbedaan. Bukankah secara logika SD itu merupakan Dasar dari pendidikan selanjutnya yang seharusnya mendapat perhatian lebih?
Kami tidak menggugat, tetapi kadang dalam tataran teori yang kami dapat berbeda dengan tataran implementasi. Kalau pakai bahasa agama, tidak sesuainya bahasa lisan dan bahasa perbuatan itu namanya munafiq, hifokrit.
Mari kita renungkan bersama. Pendidikan adalah investasi masa depan bangsa, invest itu akan berhasil maksimal kalau prosesnya juga maksimal, termasuk yang bertanggung jawab terhadap dunia pendidikan di Indonesia itu.
Beberapa bulan yang lalu di Kota malang diresmikan Kantin Kejujuran oleh Bapak Wali Kota Malang bersamaan dengan peringatan Hari anti Korupsi. Pertanyaannya adalah : "Untuk siapa kejujuran itu? untuk anak-anak?, guru? atau.........untuk semua anak bangsa".?
Kejujuran adalah sesuatu yang universal, tidak mengenal kasta dan tidak mengenal ras serta bangsa. Malahan semua agama pun di dunia ini mengajarkan tentang kejujuran. Maka sudah seharusnya "kejujuran" itu tidak terjebak dalam dunia ceremonial dan retorika saja.
Kami bukan mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi marilah kita "introsfeksi berjamaah" demi kemajuan pendidikan anak-anak kita.
Mulailah dari sekarang, mulailah dari diri kita masing-masing, dan mulailah dari yang terkecil untuk memperbaiki keadaan pendidikan di Indonesia ini.
Ayoo.....!!!!









0 komentar:
Poskan Komentar